Blog Khusus Cak Rian

Menyampaikan kebenaran dan kedamaian


Tinggalkan komentar

Lika-Liku di Cabang….

Di setiap cabang kita tidak hanya memperjuangkan kepentingan pribadi kita saja, tetapi jua kepentingan ummat yang lebih besar.
dari situ kita dituntut untuk bekerja sama dengan banyak orang yang mempunyai karakter yang bermacam-macam dari organisasi itu sendiri. kita dengan atasan, kita dengan ketua yayasandan sebagainya. yang bahkan tidak jarang dari kata2 dan tindakan mereka melukai hati kita.
di sinilah kita harus mengerahkan semua emosi, pikiran dan raga kita untuk mewujudkan apa yang dinamakan misi lembaga yang murni dengan berbagai rintangan tadi….


Tinggalkan komentar

CINTA SEJATI VS CINTA PALSU

Banyak orang yang memimpikan mendapatkan cinta sejatinya dalam hidup ini. Namun, tak jarang orang yang malah mendapatkan cinta palsu dalam hidupnya. Nah, ternyata ada cara mudah untuk membedakannya.

Berikut ini kami mencoba sampaikan tips-tips sederhananya:

Cinta Sejati

1. Seseorang yang mengantarkan dan menemani kita di jalan Allah Swt., bagaimanapun kondisinya.

2. Terkadang melukai hati kita. Namun hal itu bertujuan untuk menegur kita agar kembali ke jalan-Nya.

3. Tidak pernah mengeluh akan kondisi kita secara ekonomi dan sosial. Bahkan itu dianggapnya sebagai kekuatan kita.

4. Melihat kita secara utuh, dari aspek fisik dan ruhani.

5. Mampu bekerja sama dengan keluarga kita dalam mengarungi kehidupan.

Cinta Palsu

1. Seseorang yang mengantarkan dan menemani kita di jalan Allah Swt., namun keyakinannya bisa berubah jika kondisinya berubah.

2. Tidak mau menegur kita jika kita salah. Dia terkesan membuat penjara dalam kesalahan diri kita.

3. Mengeluhkan kondisi kita secara ekonomi dan sosial. Kekurangan diri kita dianggapnya sebagai kelemahan.

4. Biasanya melihat kita secara fisik saja.

5. Tidak mau bekerja sama dengan keluarga kita. Seolah-olah kehidupan hanya dijalani kita berdua saja.

Untuk yang belum mendapatkan cinta palsu supaya mengenali ciri-ciri di atas supaya tidak salah dalam mengambil langkah. Sedangkan untuk yang pernah mendapatkan cinta palsu agar lebih bersabar dan mengambil hikmah dari yang lalu.

Makanya, ada pepatah mengatakan: “lebih baik terlukai oleh cinta sejati daripada terpenjara oleh cinta palsu.”

Ree, mahasiswa STAIL (Sekolah Tingggi Agama Islam Lukman Al-Hakim) Keputih Surabaya.


Tinggalkan komentar

Teungku Daud Beureueh: Pahlawan Bangsa yang Terpinggirkan

Nama buku                 : Daud Beureueh, Pejuang Kemerdekaan yang Berontak

Penulis                        : Tim Liputan Khusus Daud Beureueh

Penerbit                      : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan                      : Pertama, Januari 2011

Tebal                           : 118

 

Teungku Daud Beureueh, begitu ia dipanggil karena termasuk golongan ulama’ di Aceh. Di samping menjadi ulama’ bagi rakyatnya, beliau juga adalah seorang pahlawan bangsa Indonesia yang mengusir penjajah Belanda dari Tanah Rencong.

Jalan perjuangan yang ditempuh oleh Teungku Daud Beureueh yang memimpikan berdirinya Darul Islam/ Negara Islam Indonesia (DI/NII) yang makmur dan sejahtera di bawah aturan Islam mencoba ditulis oleh grup majalah Tempo. Buku berjudul “Daud Beureueh, Pejuang Kemerdekaan yang Berontak” ialah termasuk salah satu Seri Buku Majalah Tempo, “Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan”.

Buku tersebut menceritakan sepak terjang Tengku Daud Beureueh dari awal beliau dan para pasukannya dengan gagah berani mengusir penjajah Belanda hingga wafatnya pada tahun 1987.

Buku tersebut terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama menjelaskan mengapa Teungku Daud Beureueh melakukan perlawanan dengan memproklamirkan berdirinya Darul Islam/ Negara Islam Indoesia (DI/NII) terhadap pemerintah Indonesia. Menurut beliau, pemerintah Indonesia sudah keluar jauh dari aturan Islam. Pada saat itu, Indonesia yang dipimpin Ir. Soekarno sudah kemasukan paham komunis yang anti-Tuhan dan berbagai kerusakan moral terjadi di negeri Republik ini.

Bagian kedua menceritakan proses terjadinya kesepakatan damai antara pihak pemerintah Indonesia yang diwakili oleh kolonel Muhammad Jasin dan pihak Darul Islam/ Negara Islam Indoesia yang diwakili oleh teungku Daud Beureueh sendiri. Setelah adanya kesepakatan damai tersebut, Teungku Daud Beureueh dan para pasukannya bersedia turun gunung setelah sebelumnya naik ke gunung-gunung untuk mempertahankan diri dari serangan TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang dikirim dari Jakarta.

Bagian ketiga menceritakan semangat perlawanan orang-orang Aceh dari jaman kolonialisme Belanda sampai konflik bersenjata antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka)-TNI. Yang perlu digarisbawahi ialah semangat perlawanan itu tidak didasarkan untuk memperoleh harta atau jabatan, melainkan didasarkan ingin hidup dengan aturan Islam di wilayah mereka. Dan semangat perlawanan itu akan muncul kembali jika aturan Islam di wilayah Aceh dirusak oleh orang asing, baik itu orang asing dari luar Indonesia maupun orang asing dari luar Aceh. Bagian ketiga ini juga memaparkan analisis siasat sang orientalis asal Belanda, Snouck Hurgronje. Dia  menyarankan kepada pemerintah Belanda untuk mengambil kebijakan merangkul para uleebalang dan menyingkirkan para ulama’ atau para teungku. Siasat inilah yang kita kenal selama ini dengan istilah politik “Belah Bambu” atau politik memecah belah pada masyarakat Aceh.

Bagian keempat dari buku ini adalah gagalnya misi penjajah Belanda dan saran sang orientalis Snouck Hurgronje untuk mengusasai daerah Aceh. Dampak dari kegagalan ini adalah korban jiwa yang tak terelakkan dari kedua belah pihak, kerugian ekonomi yang sangat besar untuk membiayai perang tersebut. Malahan, yang diuntungkan adalah kaum ulama’ yang ada di Aceh. Para ulama’ makin menancapkan pengaruhnya di daerah Aceh seiring memudarnya pengaruh para uleebalang.

Buku tersebut juga menyajikan kolom-kolom dari para penulis, seperti Anthony Reid dengan tulisan perlawanan dalam “Sejarah Nanggroe Aceh Darussalam”, Otto Syamsuddin Ishak dengan tulisan “Ikon Perlawanan Orang Aceh”, dan Isa Sualaiman dengan tulisan “Aceh: Islam dan Nasionalisme” serta tulisan dari para penulis lainnya.

Buku yang berjudul “Daud Beureueh, Pejuang Kemerdekaan yang Berontak” tersebut menggunakan alur cerita flashback atau alur cerita berawal dari belakang ke depan. Dari masa Teungku Daud Beureueh melakukan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia dengan DI/NII-nya pada tahun 1950-1960-an hingga gagalnya siasat sang orientalis, Snouck Hurgronje pada tahun 1930-an.

Buku tersebut menggunakan bahasa yang sederhana, ringan dan mengalir membuat pembaca merasa nyaman untuk membacanya. Buku ini juga sering membuat ringkasan untuk bab sesudahnya yang membuat pembaca penasaran dan ingin membaca cerita selanjutnya dari buku tersebut.

Buku tersebut juga sama nasibnya dengan buku-buku lainnya yang bertemakan tentang para pahalawan islam pada masa kemerdekaan yang selalu mendiskreditkan posisi dan jasa-jasa pahlawan tersebut dalam upayanya membantu kemerdekaan republik Indonesia ini.  Para penulis dan penerbit seakan “wajib” menggunakan pandangan dari sudut pandang pemerintah Indonesia. Hal itu bisa terungkap dengan penggunaan kata “pemberontak” yang dialamatkan kepada Teungku Daud Beureueh. Padahal, secara nyata-nyata Teungku Daud Beureueh adalah pahlawan Indonesia dengan mengusir penjajah Belanda dari tanah Aceh. Dan dia adalah Gubernur Militer untuk daerah Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Oleh karena dia memperjuangkan ajaran Islam yang rahmatan lilalamin (membawa rahmat bagi seluruh alam) di bumi Aceh, dia dicap sebagai pemberontak bangsa.

Akhirnya, kami menganjurkan anda untuk berhati-hati ketika anda membeli buku ini. Karena unsur-unsur kebencian kepada tokoh yang diceritakan masih banyak tertulis pada buku ini.


Tinggalkan komentar

PROFIL MANAJER

A. Perilaku
Dalam sebuah buku yang berjudul “Perilaku Manusia”, Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas, ini sebuah bentuk perilaku. Cerita ini dari satu segi. Jika seseoang duduk diam dengan sebuah buku ditangannya, ia dikatakan sedang berperilaku.  Ia sedang membaca. Sekalipun pengamatan dari luar sangat minimal, sebenarnya perilaku ada dibalik tirai tubuh, didalam tubuh manusia.
Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup)yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh – tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing – masing. Sehingga yang dimaksu perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas manusia darimanusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Notoatmodjo 2003 hal  114).
Seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori “S – O – R”atau Stimulus – Organisme – Respon. Skiner membedakan adanya dua proses.
1). Respondent respon atau reflexsive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan – rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebutelecting stimulation karena menimbulkan respon – respon yang relative tetap. Misalnya : makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Respondent respon ini juga mencakup perilaku emosinal misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraannya dengan mengadakan pesta, dan sebagainya.
2.) Operant respon atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Pernagsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atsannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya.
3). perilaku belajar, setiap prilaku belajar selalu ditandai oleh cicri-ciri perubahan yang pesifik. Karaterristik prilaku belajr dalm bebrapa pustaka antara lain psikologi pendidikan oleh surya (1982), disebutjuga sebagi prinsif-prinsif belajar. Di antara ciri-ciri perubahan khas yang enjadi karakteristi perilaku belaja yang terpenting adalah:
1)    Perubahan itu intensional
2)    Perubahan itu positif dan aktif
3)    Perubahn itu efektif dan fungsional

B. Macam-macam Perilaku Manusia Dalam Kehidupan
Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores). Manusia disebut etis, ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani dengan jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri dengan penciptanya. Termasuk di dalamnya membahas nilai­-nilai atau norma-norma yang dikaitkan dengan etika, terdapat dua macam etika (Keraf: 1991: 23), sebagai berikut:
1.    Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Da-pat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertin­dak secara etis.
2.    Etika Normatif
Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan norma-norma yang da­pat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan meng­hindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat. Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas dapat diklasifikasikan menjadi tiga (3) jenis definisi, yaitu sebagai berikut: Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.
Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik buruknya perilaku manusia dalam kehi­dupan bersama. Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.
Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif, dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap perilaku manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.
C. Perilaku Manusia Menurut al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk segenap manusia. Di dalamnya Allah menyapa akal dan perasaan manusia, mengajarkan tauhid kepada manusia, menyucikan manusia dengan berbagai ibadah, menunjukkan manusia kepada hal-hal yang dapat membawa kebaikan serta kemaslahatan dalam kehidupan individual dan sosial manusia, membimbing manusia kepada agama yang luhur agar mewujudkan diri, mengembangkan kepribadian manusia, serta meningkatkan diri manusia ke taraf kesempurnaan insani. Sehingga, manusia dapat mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Al-Qur’an juga mendorong manusia untuk merenungkan perihal dirinya, keajaiban penciptaannya, serta keakuratan pembentukannya. Sebab, pengenalan manusia terhadap dirinya dapat mengantarkannya pada ma’rifatullah, sebagaimana tersirat dalam Surah at-Taariq [86] ayat 5-7.  “Maka, hendaklah manusia merenungkan, dari apa ia diciptakan. Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.” (Q.S. at-Taariq [86]: 5-7) Berkaitan dengan hal ini, terdapat sebuah atsar yang menyebutkan bahwa “Barang siapa mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhan-nya.”
Di samping itu, Al-Qur’an juga memuat petunjuk mengenai manusia, sifat-sifat dan keadaan psikologisnya yang berkaitan dengan pembentukan gambaran yang benar tentang kepribadian manusia, motivasi utama yang menggerakkan perilaku manusia, serta faktor-faktor yang mendasari keselarasan dan kesempurnaan kepribadian manusia dan terwujudnya kesehatan jiwa manusia.
1. Definisi Manusia
Ketika berbicara tentang manusia, Al-Qur’an menggunakan tiga istilah pokok. Pertama, menggunakan kata yang terdiri atas huruf alif, nun, dan sin, seperti kata insan, ins, naas, dan unaas. Kedua, menggunakan kata basyar. Ketiga, menggunakan kata Bani Adam dan dzurriyat Adam.
Menurut M. Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang bermakna penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Al-Qur’an menggunakan kata basyar sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna untuk menunjuk manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Dengan demikian, kata basyar dalam Al-Qur’an menunjuk pada dimensi material manusia yang suka makan, minum, tidur, dan jalan-jalan. Dari makna ini lantas lahir makna-makna lain yang lebih memperkaya definisi manusia. Dari akar kata basyar lahir makna bahwa proses penciptaan manusia terjadi secara bertahap sehingga mencapai tahap kedewasaan.
Allah swt. berfirman:
َ وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (Q.S. ar-Rum [30]: 20)
Selain itu, kata basyar juga dikaitkan dengan kedewasaan manusia yang menjadikannya mampu memikul tanggung jawab. Akibat kemampuan mengemban tanggung jawab inilah, maka pantas tugas kekhalifahan dibebankan kepada manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah berikut ini. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklSah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Q.S. al-Hijr [15]: 28-29)
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 30)
Sementara itu, kata insan terambil dari kata ins yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Musa Asy’arie menambahkan bahwa kata insan berasal dari tiga kata: anasa yang berarti melihat, meminta izin, dan mengetahui; nasiya yang berarti lupa; dan al-uns yang berarti jinak. Menurut M. Quraish Shihab, makna jinak, harmonis, dan tampak lebih tepat daripada pendapat yang mengatakan bahwa kata insan terambil dari kata nasiya (lupa) dan kata naasa-yanuusu (berguncang). Dalam Al-Qur’an, kata insaan disebut sebanyak 65 kali. Kata insaan digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Bahkan, lebih jauh Bintusy Syathi’ menegaskan bahwa makna kata insaan inilah yang membawa manusia sampai pada derajat yang membuatnya pantas menjadi khalifah di muka bumi, menerima beban takliif dan amanat kekuasaan.
Dua kata ini, yakni basyar dan insaan, sudah cukup menggambarkan hakikat manusia dalam Al-Qur’an. Dari dua kata ini, kami menyimpulkan bahwa definisi manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, yang diciptakan secara bertahap, yang terdiri atas dimensi jiwa dan raga, jasmani dan rohani, sehingga memungkinkannya untuk menjadi wakil Allah di muka bumi (khaliifah Allah fii al-ardl)
E. Mengelola Prilaku Dalam Organisasi
Perilaku organisai bagian dari ilmu manajemen yang merupakan seni manajemen (the art of management). Ada dua hal yang dipertimbangkan dalam filosofi perilaku organisasi yaitu premis kenyataan (pandangan deskriptif tentang perilaku dunia yang diperoleh dari penelitian ilmu perilaku dan pengalaman pribadi), dan premis nilai (mewakili pandangan tentang sesuatu yang lebih disenangi dari sasaran tertentu). Hasil dari sistem perilaku organisasi yang efektif adalah peningkatan motivasi, yang jika digabung dengan kemampuan dan keterampilan karyawan akan meningkatkan produktivitas karyawan.
Ada empat model dalam perilaku organisasi, yaitu:
1. Otokratik
2. Kastodial
3. Suportif dan,
4. kolegial.
Pengembangan model dalam Perilaku Organisasi Model-model dalam perilaku organisai masih dapat dikembangkan sesuai dengan tuntutan modernisasi manajemen dimasa depan. Model dimaksudkan sebagai abstraksi dari realitas, yaitu penyederhanaan representasi dari beberapa fenomena di dunia nyata. Pengembangan model melibatkan tiga variable pentinga dalam perilaku organisasi, yaitu:
• Variabel tergantung (Dependent Variable) : sebuah respons yang dipengaruhi variabel bebas. Hal yang penting adalah : produktivitas, absen kerja, pindah kerja, pemutusan kerja, dan kepuasan kerja, dan kadang stress di tempat kerja.
• Variabel Bebas ( Independent Variable),sebuah variabel yang dianggap sebagai penyebab timbulnya perubahan pada variable tergantung, terdiri dari tiga tingkatan yaitu tingkat individual, tingkat kelompok, dan tingkat organisasi. Perilaku organisasi paling mudah dipelajari sebagai model bangunan yang bertingkat, yang fondasinya adalah pengertian kita tentang perilaku individual, bahwa karakteristik pribadi mulai dari lahir mempunyai dampak pada perilaku karyawan, dan manajemen hanya sedikit dapat mengubahnya.
• Variabel Antara (Moderating Variable): sebuah variabel yang mengurangi atau mempengaruhi efek dari variabel bebas terhadap variabel tergantung
F. Memahami Prilaku Orang Lain
Seorang manajer yang terkait dengan bagaimana kita membentuk kesan atas kehadiran orang lain secara dangkal. Dalam kehidupan kita sehari hari kita tidak hanya berhungan dengan kesan skilas di saat kita berjumpa dengan orang. Kita ingin sekali memahami perilaku orang lain sevcara mendalam, kenapa orang berperilaku dengan cara atau hasil tertentu. Upaya untuk memahami penyebab ini sangat terkait dengan proses Atribusi.
Kajian tentang atribusi pada awalnya dilakukan oleh Fritz Haider (1925). Menurut Haider, setiap individu pada dasarnya adalah seorang ilmuwan semu (pseudo scientist). Yang berusaha untuk mengerti tingkah laku orang lain dengan mengumpulkan dan memadukan potongan-potongan informasi sampai mereka tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab-sebab orang lain bertingkah laku tertentu. Dengan kata lain seseorang itu selalu berusaha untuk mencari sebab kenapa seseorang berbuat dengan cara-caratertentu. Misalkan kita melihat ada seseorang melakukan pencurian. Sebagai manusia kita ingin mengetahui penyebab kenapa dia sampai berbuat demikian. Dua focus perhatian di dalam mencari penyebab suatu kejadian, yakni sesuatu didalam diri atau sesuatu di luar diri.
Apakah orang tersebut mlakukan pencurian karena sifat dirinya yang memang suka mencuri, ataukah karena factor diluar dirinya, dia mencuri karenadipaksa situasi, misalnya karena dia harus punya uang untuk membiayai pengobatan anaknya yang sakit keras. Bila kita (individu) melihat/menyimpulkan bahwa seseorang itu melakukan suatu tindakan karena sifat-sifat kepribadiannya (suka mencuri) maka kita (individu) tersebut melakukan atribusi internal (internal attribution). Tetapi jika kita (individu) melihat atau menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh seseorang dikarenakan oleh tekanan situasi tertentu (misalnya mencuri untuk beli obat) maka kita melakukan atribusi ekternal (external attribution) Proses atribusi telah menarikperhatian para pakar psikologi sosia dan telah menjadi objek penelitian yang cukup intensif dalam beberapa decade terakhir.
Ada beberapa factor yang dapat dijadikan dasar untuk menarik suatu kesimpulan tentang apakah suatu perbuatan disebabkan oleh sifat kepribadian ataukah disebabkan oleh tekanan situasi.. bila factor-faktor berikut ini hadir ( ada) disaat seseorang melakukan perbuatan atau tindakan, maka dapat dipastikan perbuatan/tindakan tersebut disebabkan karena factor sifat-sifat kepribadian (disposisi) orang tersebut. Apa sajakah ketiga factor tersebut ?
1.    Non Common Effect (tindakan yang tidak umum/ora sak umume uwong)
Apa yang dimaksud dengan non-common effect (hal-hal yang memberi dampak yang kurang umum), yaitu situasi dimana penyebab dari tindakan yang dilakukan oleh seseorang adalah sesuatu yang tidak disukai oleh kebanyakan orang pada umumnya. Sebagai contoh misalnya , jika anda seorang pria memutuskan untuk menikahi seorang gadis yang cantik berusia masih muda dan berbudi pekerti luhur, maka dlam hal ini tidak ada hal-hal umum yang anda langgar. Artinya anda melakukan suatu hal yang lazim dan disukai umum. Sangat sulit bagi kita untuk mengatakan pilihan anda menikahi gadis tersebut karena sifat keribadian pria tersebut. Pria pada umumnya akan mau dan dengan senang hati menikahi gadis yang memiliki cirri-ciri demikian. Tetapi kalau seandainya seorang pria menikahi wanita pintet, kaya, tua dan buruk rupanya (tidak cantik), orang akan segera saja menyimpulkan bahwa pria itu memiliki sifat-sifat kepribadian yang materialistic (menyukai kekayaan si wanita). Kenapa demikian ? Karena biasanya pria
2.    freely chosen act ( tindakan atas pilihan sendiri)
Dalam kehidupan keseharian kita, kadang kita menyaksikan banyak orang yang berbuat atau bertindak tidak atas keputusannya sendiri, tidak sedikit orang yang bertindak atau berbuat karena desakan atau paksaan situasi. Sebagai contoh misalnya dalam kisah cinta siti nurbaya seorang wanita muda harus menikah dengan Datuk maringgih, seorang duda tua yang kaya raya. Nurbaya menikah karena dipaksa oleh orang tuanya demi melunasi hutang-hutangnya.
3.    Low social desirability (tindakan yang menyimpang kebiasaan)
Suatu ketika kita melihat seseorang berperilaku aneh, tidak wajar dan tidak sebagaimana mestinya. Dengan kata lain tindakan atau perbuatannya itu menyimpang dari kebiasaan umum. Misalnya ketika seseorang menghadiri upacara kematian (layat/takziyah-jw) semestinya orang tersebut harus menujukkan wajah sedih dan berempati atas kematian anggota keluarga si tuan rumah. Jika seseorang menujukkan ekpresi demikian akan sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa seseorang tadi kepribadiannya penuh empati dan simpati. Mengapa demikian ? karena dalam situasi layatan setiap orang dituntut untuk berbuat demikian. Tetapi kalau seseorang dalam layatan tersebut lalau menujukkan kegembiraan dengan tertawa-tawa, bahkan terbahak-bahak di saat orang lain susah maka dalam situasi ini akan mudah bagi kita untuk menarik kesimpulan bahwa kepribadian orang tersebut tidak beres. Kita akan dengan mudah menarik kesimpulan
G. Orang Lain Sebagai Patner Bukan Sebagi Bawahan
Kekuasaan atau jabatan apapun yang kita sandang adalah amanah Allah yang tak bisa kita telantarkan begitu saja. Kadang, sangking besar atau tingginya jabatan kita lupa makna dan hakekatnya. Sehingga kita terkadang bertindak sewenang-wenang, bahkan di luar kewajaran. Tak jarang kita menganggap bawahan kita sebagai ‘orang lain’, bukannya sebagai partner sejajar yang diharus dihamba Allah-kan juga. Atau bahkan kita menganggapnya lebih rendah. Sungguh celaka bila kita merasa lebih tinggi atau hebat dengan bawahan kita, kalau hanya jabatan kita lebih tinggi.
Kita harus ingat, serendah apapun jabatan bawahan kita, mereka adalah hamba-hamaba Allah. Jangan-jangan mereka lebih dari pada kita dihadapan Allah. Karena barang kali dalam bekerja mereka lebih ikhlas dibanding kita, lebih jujur dalam mengambil kebijakan. Atau bahkan mereka para bawahan kita itu lebih sederhana hidupnya. Rasulullah Saw. sendiri dalam kesehariannya, kendati memiliki kedudukan yang agung tak tertandingi -sebagai Nabi dan Rasul-Nya- tak menjadikan sahabatnya atau siapapun, bahkan musuhnya sebagai orang yang lebih rendah. Beliau tahu, bahwa kemuliaan seseorang itu pada nilai taqwanya. Bukan pada atribut duniawi; pangkat, jabatan, prestise atau apaun lainnya.
Nabi Muhammad Saw tak pernah membedakan Bilal (sahabat Nabi dari kalangan budak) dengan Abu Bakar al-Shidiq (sahabat Nabi dari kalangan pembesar suku). Tak aneh jika dalam sebuah kesempatan beliau menasehati agar kita dalam melihat sesuatu itu pada nilai taqwanya. Bukan pada bentuk luar atau atribut sosial yang menempel pada diri kita.
“Tidaklah seseorang memiliki kelebihan atas orang lain kecuali dengan din (nilai agamanya) dan ketaqwaan. Semua manusia adalah anak cucu Adam. Dan Adam itu diciptakan dari tanah. tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atasd orang non-Arab, tidak ada keutamaan bagi orang non-Arab atas orang Arab, orang berkulit putih atas orang kulit hitam, dan oarang berkulit hitam atas orang kulit putih kecuali dengan taqwa”. Demikian pesan Nabi Saw itu ditulis Imam Ahmad dalam Musnadnya.
Karena itu, sebaiknya kita lebih berhati-hati dengan pangkat, jabatan dan apa saja yang melekat pada kita. Boleh jadi tanpa kita sadari semua (pangkat, jabatan, gelar, dll) itu membuat kita terhina dihadapan Allah Sang Pemilik Segalanya. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt juga mengingatkan kita agar tidak terjebak pada simbol-simbol dunia. Sebab dunia beserta simbol-simbolnya hanyalah peramainan dan lelucon saja. Jadi tak perlu dimasukkan dalam hati. “Sesunggguhnya kehidupan dunia adalah permainan dan senda-gurau,”seru Allah dalam surat Muhammad.
Selanjutnya, terhadap atribut duniawi itu, pertanggungjawabnnya tidak saja selesai di dunia. Karena kalau di dunia bisa dimanipulasi, bisa aas (asal atasan senang). Pertanggungjawaban itu akan diminta lagi oleh Allah di akherat kelak. Tentu tebih berat lagi bagi mereka yang sering mengatasnamakan wakil rakyat dan demi kepentingan rakyat.

F. Egalitarian dalam Perilaku
1). Egalitarian atau egalitarianism yaitu suatu faham bahwa semua orang sama rata dan dengan itu maka semua orang mendapat hak dan dan peluang yang sama.
2). Doktrin atau pandangan yang menyatakan bahwa manusia itu ditakdirkan sama derajat. Pengertian Dalam bidang Pendidikan asas pendirian yang menganggap bahwa kelas-kelas sosial yang berbeda mempunyai bermacam-macam anggota, dari yang sangat pandai sampai ke yang sangat bodoh dalam proporsi yang relatif sama manusia sebagai makhluk sosial Masyarakat Madani
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.

Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya. Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karrena beberapa alasan, yaitu:
a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b. Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

G. Menimbulkan prilaku yang di inginkan dari oranglain untuk kita dalampratek belajar
1.    Berpikir rasional dan kritis
Berpekir rasiona dan kritis adalah perwujudan prilaku belajar terutama yang bertalian dengan memecahkan masalah. Pada umumnya siswa yang berpekir rasional akan mengunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan ,mengapa, bagaimana, danapa.dalam berpikir rasionalsiswa dituntutmengunakan logika,untuk menentuka sebab-akibat,menganalisis,da ampu emecahka masalah dengan mengunakan pertimbangan akal sehat, logis dan sestimatis.
2.    Belajaar kebiasaan
Belajar kebiasan adalah proses pembentukan kebisaan-kebiasan baru atau perbaikan kebiasan-kebiasan yang telah ada. Belajar kebiasan salaing mengunakan perintah, suri tauladan dan pengalaman yang khususu, juga mengunakan pengalaman hukuman dan ganjaran. Tujuan agar siswa memperolh sikap-sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepatdan positif dalm arti selaras dengan kebutuhan rungan dan waktu.
3.    Belajar Apresiasi
Belajar apresiasi ialah belajar meenpertimbangkan (judgment) artipenting atau nilai suatu objek. Tujuannya agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa yang dalam halini kemampuna menghargai yang tepat terhadap nilaiobjek yang tertentu misalnya prersiasi sastra, apresiasi music.
4.    Belajar pengetahuan
Bejalar pengetahuan (study) ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Study ini juga dapat diartikan sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan egiatan inpestigasi dan eksperiment. Tujuanya belajar pengtahuan adalah agar siswa dapat memperoeh atau menambah imformasi atau menambah pengetahuan tertentu yang biasa lebih rumit da memerlukan kiat khusus dala mempelajarinya misalnya dengan mengunakan alat-alat labolaturium dan penelitian lapangan
5.    Bealajar abstark
Belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berfikir abstrak. Tujuanya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata dalam mempelajari hal-hal yang abstark diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jeis ini misalnya belajar matematika, astronomi, filsafat, dan mteri bidang study agama seperti tauhid.


Tinggalkan komentar

DI BALIK SARASEHAN BERSAMA DEWAN SYURO LDK STAIL

Pertemuan pengurus LDK STAIL yang baru dengan para anggota dewan syuro ialah pertemuan yang pertama. Petemuan itu bernama sarasehan bersama anggota dewan syuro.

Petang itu,  tepatnya ba’da maghrib pada pertengahan januari 2010, berkumpullah sekelompok ikhwan mahasiswa STAIL semester V dan VII di mushollah Sakinah. Jumlah mereka sekitar 15-an orang. Mereka menunggu sekelompok lainnya datang ke mushollah Sakinah sambil berbincang tentang berita keislaman terhangat dan perkembangan dakwah islam akhir-akhir ini.

Selang beberapa menit kemudian, datanglah kelompok mahasiswa yang dari tadi ditunggu-tunggu tersebut. Mereka terdiri dari para ikhwan dan akhwat.

Mereka ialah para anggota dewan syuro LDK STAIL dan para pengurus inti LDK STAIL. Petang itu, para pengurus inti LDK STAIL  akan mengadakan sarasehan bersama para anggota dewan syuro.

Acara dibuka oleh akhi Afri selaku pembawa acara sarasehan tersebut. Acara dilanjutkan dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an oleh akhi Muhammad Hasan, qori’ handal mahasiswa semester V.

Kemudian, memasuki acara inti, sang ketua LDK, akhi Hendar, memimpin acara sarasehan bersama para anggota dewan syuro LDK. Dia mempersilahkan sang ketua dewan syuro, akhi Lukman Al-Hakim, agar menyampaikan pengalaman-pengalamannya, suka-dukanya selama memimpin LDK STAIL. Akhi Lukman pun menyampaikan pengalaman-pengalamannya dan suka-dukanya selama memimpin LDK STAIL selama setahun dia memimpin. Menurut akhi Lukman, memimpin LDK STAIL dapat dikatakan gampang-gampang susah. Dapat dikatakan gampang karena para pengurus LDK ialah para mahasiswa yang juga santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Hal ini berdampak pada tingkat pemahaman agama anggotanya yang dapat dikatakan mencukupi dan kemudahan pada koordinasi karena letaknya yang berdekatan. Dapat dikatakan susah karena, menurut akhi Lukman, sering terjadi benturan jadwal LDK dengan jadwal pesantren. Meski demikian, akhi Lukman memberikan semangat kepada para pengurus LDK yang baru tersebut. Mengurus dakwah ialah tugas mulia dan tak semua orang bisa menjalaninya dengan istiqomah. Dan insya Allah pahalanya di sisi Allah akan mengalir terus-menerus.

Para anggota dewan syuro yang lain, seperti Syaf’i, bagian Humas, Rian, bagian infokom dan Sufyan, bagian Dakwah selama menjadi anggota LDK juga buka suara menyampaikan pengalaman-pengalamannya dan suka-dukanya selama menjalankan roda organisasi LDK STAIL tersebut.

Pelajaran penting

Apa yang bisa dipetik dari berita di atas sebagai pelajaran?

Ada satu pelajaran berharga yang dapat kita petik demi kebaikan LDK STAIL pada khususnya. Yaitu pelajaran tentang konsep imamah-jama’ah yang telah menjadi konsep kepemimpinan Hidayatullah.

Di periode 2010-2011 ini, akhi Hendar menjabat sebagai ketua LDK STAIL dan dia membawahi sekretaris, bendahara, ketua-ketua departemen dan para anggota LDK yang lainnya. Namun, secara koordinasi dia masih dalam pengawasan dewan syuro LDK karena para anggota dewan syuro LDK STAIL merupakan mitra dan pengawas pengurus LDK STAIL dalam menjalankan roda organisasi. Para anggota dewan Syuro LDK STAIL yang dikomandani akhi Lukman al-Hakim mengawasi pengurus LDK STAIL sekarang, apakah masih ada program-program LDK yang belum terlaksana dan membantu program-programnya meskipun tidak dalam tataran teknis. Karena dalam tataran teknis sepenuhnya dipegang oleh para pengurus LDK STAIL sekarang.

Kepemimpinan model imamah-jama’ah ini jika diamalkan secara istiqomah dan terus menerus secara khusus organisasi LDK STAIL ini, insya Allah akan ada kemudahan untuk organisasi ini dan para pengurusnya. Dan, pada akhirnya kebangkitan islam akan segera datang.


Tinggalkan komentar

LDK STAIL, LDK-NYA PARA SANTRI

Siapa sekarang yang tidak tahu LDK STAIL? Bagi para aktivis dakwah se-Kota Surabaya, nama LDK STAIL sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Mulai dari program-programnya yang bagus dan nyata hingga para pengurusnya yang soleh dan solehah.

Mungkin pernyataan di atas agak berlebihan. Namun  jika kita melihat realitas yang ada, rasa-rasanya pernyataan itu tidaklah berlebihan. Pada periode 2010, LDK STAIL mendapat kehormatan dengan memegang amanah departemen PKSIM (Pusat Kajian Syariat Islam Mahasiswa) dari PUSKOMDA (Pusat Komando daerah) Surabaya Raya (selanjutnya dibaca Surya, pen). Tahun 2011 ini, LDK STAIL mendapat amanah yang lebih besar lagi. LDK STAIL sekarang memegang dua departemen dari PUSKOMDA Surya, yaitu dep. PKSIM dan dep. JAMAAT (Jaringan Anti Pemurtadan).

Dengan amanah yang sedemikian besar itu dari PUSKOMDA Surya tersebut, tetapi tidak mengganggu program-program internalnya, baik dari dep. Dakwah, dep. Tarbiyah, dep. Infokom hingga dep. Humas. Bahkan para pengurus dan LDK STAIL semakin bersemangat melaksanakan amanah  yang mulia tersebut. Karena mereka yakin, tugas dakwah islam ialah tugas yang mulia yang musti diemban seorang muslim yang sadar akan pentingnya amanah tersebut.

Satu Rahasia

Satu rahasia yang perlu diketahui oleh khalayak umum tentang LDK STAIL. Satu rahasia itulah yang membuat LDK STAIL mencapai kesuksesan dan mendapat amanah yang membanggakan, meskipun LDK STAIL relatif lebih muda usianya dibandingkan dengan LDK-LDK kampus lainnya yang tersebar di kawasan se-Surabaya Raya ini. Satu rahasia yang membedakan LDK STAIL dengan LDK_LDK yang lain. Satu rahasia itu ialah para pengurus dan anggotanya ialah para mahasiswa dan santri di kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Para pengurus dan anggota LDK STAIL ialah mahasiswa yang menempuh pendidikan formal di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIL) Surabaya. Para mahasiswa ini belajar dalam dua jurusan, jurusan Dakwah dengan konsentrasi Komunikasi dan Penyiaran Islam dan jurusan tarbiyah dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam selama delapan semester atau empat tahun masa aktif kuliah.

Para pengurus dan anggota LDK STAIL yang putra, di samping mereka menempuh pendidikan formal di STAIL, mereka juga belajar ilmu agama di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Pagi hingga sore harinya mereka kulaih di kampus dan pada sore hingga pagi harinya mereka menimba ilmu agama di pesantren. Setelah subuh mereka belajar enam kitab kuning dengan tiap kitab yang berbeda-beda setiap harinya. Pada hari senin mereka belajar kitab Aqidah Tauhid, hari selasa belajar kitab tafsir As-Sa’dy, hari rabu mereka belajar kitab sirah Nabi Arrahiqul Makhtum, hari kamis mereka belajar kitab hadis Riyadhus Shalihin, hari jum’at mereka belajar kitab Fiqh Sunnah dan hari sabtu mereka belajar kitab Tazkiyatun Nufus. Lalu pada siang  harinya mereka hafalan Al-Qur’an. Dan pada malam harinya mereka belajar lagi untuk pendalaman kitab yang enam di atas.

Begitulah hari-hari yang dijalani para pengurus dan anggota LDK STAIL. Kalau dibayangkan, hal ini tentu berat, baik dari sisi aktivitasnya ataupun dari sisi waktunya. Tetapi, hal ini tidaklah terlalu sulit dilakukan karena kampus dan pesantren berada dalam satu kompleks yang terintegrasi dengan masjid Aqshal Madinah. Juga kurikulum di STAIL juga terintegrasi dengan Pondok Pesantren Hidayatullah.

Meskipun para pengurus dan anggota LDK STAIL yang putri pada pagi harinya punya kesibukan kerja dan harus tinggal di tempat kost-kost-an, tetapi tetap ada kajian-kajian keislaman yang harus mereka ikuti.

Kajian-kajian keislaman itu berada dalam wadah organisasi An-Nisa’. Setiap minggunya ada kajian-kajian keislaman yang berbeda. Pada minggu pertama materi Sistematika Nuzulnya Wahyu  yang diisi oleh ustadzah Somi, pada minggu kedua materi tentang organisasi yang diisi oleh ustadzah Mu’arofah, pada minggu ketiga diisi dengan koordinasi dan hafalan Al-Qur’an oleh anak-anak An-Nisa’sendiri dan pada minggu keempat materi tentang tahsinul qur’an yang diisi oleh ustadzah Arfi. Juga pada hari kamis setelah sholat maghrib ada kajian keislaman yang diisi oleh Ustadzah Ina Choeroyati.

Inilah sekilas gambaran para pengurus dan anggota LDK STAIL. Dengan sumber daya manusia yang begitu mendukung untuk dakwah islam, diharapkan para pengurus dan anggota dapat mewarnai derap langkah dakwah islam dengan program-programnya dan kerja keras serta keistiqomahan mereka. Meskipun, halangan dan rintangan menghadang di depan mereka.

Menjadi mahasiswa sekaligus santri bagi para pengurus dan anggota LDK STAIL  bukanlah suatu beban bagi mereka. Justru dengan status sebagai mahasiswa dan juga santri itulah yang menjadi daya tarik dan keunggulan tersendiri bagi mereka.

*oleh      : Rian, anggota dewan syuro LDK STAIL, mantan ketua dep. Infokom LDK STAIL.


Tinggalkan komentar

PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN

By          : F. Imaduddin

Peristiwa penting yang mempengaruhi Ilmu Manajemen adalah revolusi industri di Inggris.Revolusi Industri di Inggris ditandai dengan penggunaan mesin menggantikan tenaga manusia yang berakibat berpindahnya kegiatan produksi dari rumah-rumah ke tempat-tempat yang disebut pabrik, sehingga dibutuhkan teori yang dapat membantu meramalkan permintaan,memberikan tugas pada bawahan dan lain-lain. Sehingga Ilmu Manajemen mulai dikembangkan oleh para ahli. Perkembangan teori manajemen dapat dilihat dari aliran pemikiran manajemen dan pendekatan manajemen, sebagai berikut :

  • Teori Manajemen Klasik

Ada dua tokoh manajemen yang mengawali munculnya manajemen ilmiah, Robert Owen dan Charles Babbage.1

  1. Robert Owen (1771-1858)

Pada permulaan abad 1800, Robert Owen seorang manajer beberapa pabrik kapas di New Lanark Skotlandia, menekankan pentingnya unsur manusia dalam produksi. Dia menemukakan bahwa melalui perbaikan kondisi karyawanlah yang akan menaikkan produksi dan keuntungan (laba), dan investasi yang paling menguntungkan adalah pada karyawan atau “Vital Machines”.

  1. Charles Babbage (1792-1871 )

Charles Babbage, seorang profesor matematika dari Inggris, mencurahkan banyak waktunya untuk membuat operasi-operasi pabrik menjadi lebih efisien. Dia percaya bahwa aplikasi prinsip-prinsip ilmiah pada proses kerja akan menaikan produktifitas dan menurunkan biaya. Babbage adalah penganjur pertama pembagian kerja melalui spesialisasi. Kontribusinya yang lain, Babbage menciptakan alat penghitung (kalkulator) mekanis pertama, pengembangan program-program permainan bagi komputer menganjurkan kerjasama yang saling menguntungkan antara kepentingan karyawan dan pemilik pabrik, serta merencanakan skema pembagian keuntungan. 

Aliran Manajemen Ilmiah

Tokoh-tokoh penting dalam Aliran Manajemen Ilmiah dapat disebutkan antara lain : Robert Owen (1771-1858), Charles Babbge (1792-1871), Frederich W Taylor (1856-1915), Henry L Gantt (1861-1919) serta Frank dan Lilian Gilberth (1868-1924 dan 1878-1972).

Beberapa sumbangan dari aliran ini adalah :

Metode-metode ilmiah yang dikembangkan, seperti :

Penerapan prinsip-prinsip ilmiah dalam proses kerja (teknik-teknik efesiensi) untuk meninngkatkan produktivitas dan menekan biaya lebih rendah.Seleksi karyawan secara ilmiah.Peningkatan kondisi karyawan (pengembangan, pendidikan, dan kesejahteraan) untuk meningkatkan hasil produksi dan laba.Penggunaaan sistem bagan yang memuat jadwal kegiatan produksi karyawan, dapat diterapkan pada berbagai kegiatan organisasi.Manajemen Ilmiah yang mementingkan rancangan kerja mendorong para manajer untuk mencari cara terbaik dalam pelaksanaan tugas.Manajemen Ilmiah mengembangkan pendekatan rasional dalam pemecahan masalah.

Beberapa keterbatasan dari aliran ini adalah :

Peningkatan produksi sering kali tidak disertai dengan peningkatan pendapatan.

Upah yang tinggi dan kondisi kerja yang baik bukan hanya disebabkan oleh peningkatan laba perusahaan.Hubungan manajemen dengan karyawan tetap jauh.Manajemen ilmiah memandang manusia sebagai suatu yang rasional yang hanya dapat dimotivasi dengan pemuasan kebutuhan ekonomi dan fisik, sehingga aliran ini mengabaikan kebutuhan sosial non bendawi serta kebutuhan mendapatkan kepuasan dari hasil kerjanya. 

  • Teori Organisasi Klasik

Henry Fayol (1841-1925) adalah tokoh penting dalam aliran ini. Fayol memberi perhatian utama pada kegiatan manajerial. Kemampuan manajerial dinilai sebagai aspek penting yang paling dibutuhkan dalam operasi perusahaan. Fayol kemudian membagi manajemen dalam lima fungsi :

  • Perencanaan (planning)

  • Pengorganisasian (organizing)

  • Pemberian perintah (commanding)

  • Pengkoordinasian (coordinating)

  • Pengawasan (controlling)

Dalam perkembangannya, fungsi ke-3 dan 4 difusikan menjadi fungsi pengarahan (actuating) sehingga di kenal menjadi 4 fungsi standar : planning-organizing-actuating-controlling, sebagaimana yang di gagas oleh George R Terry (1977).

Beberapa sumbangan dari aliran ini adalah :

Konsep keterampilan manajerial dapat diterapkan dalam berbagai tipe kegiatan organisasi.Pandangannya yang memberikan hal-hal praktis dibandingkan aliran lain menyebabkan banyak diterima oleh para manajer.Pandangannya juga memberikan kesadaran bagi para manajer akan hal-hal mendasar yang mungkin akan dihadapi dalam setiap organisasi.

Beberapa keterbatasan dari aliran ini adalah :

Prinsip-prinsip aliran ini dinilai hanya tepat bila organisasi berada dalam lingkungan yang stabil dan dapat meramalkan secara tepat perubahan lingkungan luar organisasi.Prinsip-prinsip aliran ini dipandang terlalu umum untuk mengatasi permasalahan organisasi masa kini.

Aliran Perilaku

Aliran ini berkembang oleh sebab aliran klasik dipandang tidak benar-benar membantu pencapaian efisiensi produksi, keserasian kondisi dan situasi kerja.Aliran ini berupaya membantu manajer untuk mengatasi masalah organisasi melalui sisi perilaku karyawan.

Tokoh-tokoh penting dalam aliran perilaku adalah Hugo Munsterberg (1863-1916) dan Elton Mayo (1880-1949).Melalui eksperimen Hawthorne (Mayo), aliran ini mengganti konsep manusia rasional (manusia yang hnya dapat dimotivasi dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi) dengan konsep manusia sosial (Manusia yang dapat dimotivasi dengan pemenuhan kebutuhan sosial melalui hubungan kerja).

Beberapa sumbangan dari aliran ini adalah :

Memberikan pemahaman akan pentingnya motivasi, perilaku kelompok, hubungan antar karyawan, dan kerja bagi manusia.Meningkatkan sensitifitas (empati) manajer dalam berhubungan dengan bawahan.

Beberapa keterbatasan dari aliran ini adalah :

Model dan teori yang ditawarkan dipandang terlalu abstrak dan rumit untuk diterapkan.Kompleksitas perilaku manusia yang terjadi sering kali mengakibatkan para ahli aliran ini memberikan saran yang berbeda sehingga menyulitkan manajer untuk memilih terapi yang akan digunakan.

Aliran Ilmu Manajemen

Aliran ini mengembangkan prosedur penelitian operasional (Operation Research) dalam mengatasi permasalahan organisasi.Prosedur yang digunakan dimulai dengan analisis masalah sampai usulan kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut.

Beberapa sumbangan aliran ini adalah :

Prinsip aliran ini banyak diterapkan dalam pemecahan masalah pada organisasi besar dengan cara :

Memecahkan masalah secara matematis

Melakukan peninjauan dari berbagai ilmu (multidisiplin)

Aliran ini menggunakan teknik-teknik manajemen ilmiah pada berbagai kegiatan organisasi seperti : penyusunan anggaran, arus uang, jadwal produksi, pengembangan produk, perencanaan tenaga kerja, dll.

Beberapa keterbatasan aliran ini adalah :

Sumbangan aliran ini hanya banyak pada kegiatan perencanaan dan pengawasan, namun tidak pada kegiatan lain (pengorganisasian dan pengarahan).Sekalipun teknik yang diberikan aliran ini cukup luas dalam mengatasi masalah manajemen, namun dinilai tidak cukup efektif bila mengatasi masalah manusia dalam manajemen.

Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem memandang organisasi sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan.Sehingga, dalam pendekatan ini manajer akan memandang organisasi sebagai suatu kesatuan yang merupakan bagian dari lingkungan eksternal yang lebih luas.Setiap kegiatan dalam suatu bagian organisasi akan mempengaruhi kegiatan pada bagian lain.Pendekatan ini menekankan perhatian pada dinamika dan sifat keterkaitan antar unsur organisasi dan tugas manajemen. Ia memberikan kerangka dalam merancang tindakan dan mengantisipasi akibat langsung maupun jangka panjang. Perspektif sistem memberiakan kemudahan pada para manajer untk mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan internal dan eksternal perusahaan.

Pendekatan Kontingensi

Pendekatan kontingensi dikembangkan sebagai respon atas sering dijumpainya metode-metode yang efektif untuk situasi tertentu ternyata tidak dapat diterapkan untuk situasi yang lain.Dlam perspektif pendekatan ini, seorang manajer bertugas untuk mengindentifikasi teknik mana yang akan digunakan dalam situasi dan waktu tertentu dalam membantu pencapaian tujuan organisasi. Jadi, satu solusi yang dianggap paling tepat untuk mengatasi masalah manajemen adalah bergantung pada situasi yang dihadapi manajemen. Jawaban ini didasarkan pada kenyataan bahwa situasi, aksi dan hasil merupakan faktor yang saling mempengaruhi dan memiliki ketergantungan satu dengan lainnya.

Selain kelima aliran besar tersebut,sebenarnya sejak 1977 telah berkembang gagasan islamisasi ilmu manajemen. Melalui gerakan islamisasi ilmu pengetahuan – termasuk ilmu manajemen didalamnya – lembaga The International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang berpusat di Virginia, Amerika Serikat telah mempelopori dan membuka wacana baru serta memperkaya perkembangan pemikiran manajemen. Oleh karenanya, Selain kelima aliran besar diatas, dapat ditambahkan aliran Manajemen Islami.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.