Blog Khusus Cak Rian

Menyampaikan kebenaran dan kedamaian

PENGEMBANGAN ILMU DAKWAH DAN SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU DAKWAH

Tinggalkan komentar


PENGEMBANGAN ILMU DAKWAH DAN SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU DAKWAH

A. Pendahuluan

Perkembangan dakwah islam di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan perkembangan yang pesat, baik itu yang terjadi di perkotaan maupun yang terjadi di pedesaan. Juga terjadi perkembangan dalam hal unsur-unsur dakwah, materi dakwah, sarana-sarana dakwah hingga objek dakwahnya sendiri. Dalam tataran praktis, perkembangan dalam praktek dakwah dapat dilihat dengan banyaknya partai politik yang menggunakan islam sebagai asasnya, berkurangnya kaum islam abangan dan meningkatnya pemahaman masyarakat akan ajaran islam yang sesungguhnya.

Hal ini memberikan implikasi terhadap perkembangan ilmu dakwah yang menjadi wadah bagi pengembangan ilmu dakwah itu sendiri. Karena ilmu dakwah mengikuti berbagai perkembangan praktek dakwah yang berkembang di masyarakat.

Saat ini, ilmu dakwah terbagi menjadi beberapa konsentrasi. Antara lain, Konsentrasi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Konsentrasi Jurnalistik Bimbingan dan Penyuluhan Islam, Konsentrasi Manajemen Dakwah, Konsentrasi Pengembangan Masyarakat Islam, Konsentrasi Kesejahteraan Sosial.

B. Metode Keilmuan dan Implikasinya bagi Pengembangan Disiplin Ilmu Metode ilmiah dibangun dari cara berpikir deduktif dan induktif.

Dengan deduktif diharapkan mampu memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud dengan berpikir induktif adalah untuk memberikan pembenaran empirik kepada pengetahuan yang telah dirasionalisasi oleh berpikir deduktif. Kedua hal ini sangat penting. Tanpa salah satu dari pemikiran tersebut, maka ilmu itu akan pincang. Metode ilmiah setelah pengetahuan diberikan penjelasan rasional / deduktif, sebelum teruji secara empirik / induktif semua penjelasan tersebut hanyalah bersifat sementara, penjelasan sementara ini biasa kita sebut dengan istilah hipotesis. Sebenarnya kita dapat mengajukan hipotesis sebanyak-banyaknya sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluralistik. Namun setelah dilakukan pengujian hipotesis pada akhirnya hanya satu hipotesis yang diterima, yaitu hipotesis yang didukung oleh fakta-fakta empirik. Oleh karena itu sering kali metode ilmiah dikenal sebagai proses logiko-hipotetiko-verifikatif, yang merupakan penggabungan antara berfikir secara deduksi dan induksi. Secara sederhana metode ilmiah dapat digambarkan dalam kalimat sederhana sebagai berikut ‘jelaskan pada saya lalu berikan buktinya!’ (Jujun S. Suriasumantri, 1984 )

Menurut Jujun Suriasumantri, kerangka berfikir ilmiah logico-hipotetiko-verivikatif secara garis besar terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

1.Perumusan masalah. Yang merupakan pertanyaan mengenai objek empirisme yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.

2.Penyusunan kerangka berfikir Dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara faktor yang saling terkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berfikir di susun secara rasional berdasar premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenaranya dengan memperhatikan faktor empirik yang relevan dengan permasalahan.

3.perumusan hipotesis Yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berfikri yang dikembangkan.

4.pengujian hipotesis Merupakan pengumpulan fakta-fakta relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak

5.Penarikan kesimpulan, Merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu di tolak atau diterima, sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima, begitu sebaliknya. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan.

C. Metode Pengembangan Ilmu dakwah

Setiap ilmu termasuk didalamnya ilmu dakwah memiliki segi statika dan segi dinamika. Drs. Soejono Soemargono dalam hal diatas menjelaskan: ………IlmuPengetahuan itu dikatakan mempunyai segi statikanya yang berupa suatu sistem tertentu yang terdiri dari pengetahuan-pengetahuan ilmiah. Sedangkan ditinjau dari segi dinamikanya ilmu pengetahuan itu merupakan suatu usaha berlangsung terus-menerus untuk mencapai kebenaran ilmiah dan kebahagiaan umat manusia. (Soejono Soemargono, 1983: 5).

Tentunya pengembangan yang dimaksud adalah pengembangan yang terarah dan bermetodik artinya menggunakan metode penelitian ilmiah yang sudah ada, karena pengembangan ilmu hanya dapat dilakukan dengan penelitian baik melalui library research (riset kepustakaaan), maupun field research (riset lapangan/empiris).

Secara umum metode penyelidikan ilmiah dalam buku “filsafat ilmu pengetahuan” disebutkan dua metode yaitu:

1) Metode siklus empirik, yaitu cara-cara penanganan sesuatu objek ilmiah tertentu yang dialakukan dalam ruang-ruang tetutup, seperti dalam laboratorium-laboratorium, dalam kamar-kamar kerja ilmiah, dalam studio-studio ilmiah dan sebagainya.

2) Metode Linier, yaitu cara-cara penanganan sesuatu objek ilmiah tertentu yang terdapat dan dilakukan di alam terbuka, khususnya yang menyangkut perikehidupan atau tingkah laku manusia. (Soejono Soemargono 1983:5)

Dakwah adalah sesuatu suatu kegiatan penyampaian ajaran islam dari seseorang kapada orang lain yang berarti termasuk tingkah laku manusia sebagaimana yang diselidiki dengan metode linear diatas. Aktifitas dakwah seperti ini telah ada sejak berabad-abad yang lampau sampai sekarang. Sejak diturunkanya rosulullah dipermukaan bumi ini dakwah telah dilaksanakan dan itu berlangsung sampai sekarang dengan berbagai variasinya.

Dengan kenyataan diatas maka jika suatu penyelidikan mengenai dakwah dengan sekat problemmatikanya menajdi suatu ilmu pengetahuan tentang dakwah atau dengan maksud mengembangkan ilmu tersebut maka penyelidikannya dapat dilakukan secara historis maupun secara empiris.

1) Penyelidikan Historis

Drs. S. Imam Asy’ari mengatakan bahwa metode sejarah (historika) itu adalah menganalisis kedudukan keadaan yang terdapat sekali berlalu dengan menyatakan kausalitas atau sebab-akibatnya. Meneliti peristiwa-peristiwa, proses-proses dan lembaga-lembaga peradaban manusia masa silam dengan tujuan untuk mendapatkan untuk gambaran yang tepat tentang kehidupan manusia waktu itu. Bentuk-bentuk sosial sekarang, kebiasaan-kebiasaan atau cara hidup kita mempunyai akar-akarnya di masa lalu, karena itu dasar cita tersebut dapat diterangkan dengan paling baik melacaknya kembali dari sumber-sumbernya. Yang menjadi sorotan utama adalah dalam penyelidikan historis dakwah ini adalah bentuk-bentuk dakwah yang telah dilaksanakan pada masa lampau terutama dakwah pada masa-masa Rasulullah, dakwah pada masa khulafaurrosyidin serta dakwah pada masa berikutnya baik di masa kejayaan islam maupun kemerosotannya. Dakwah islam yang ada sekarang ini mempunyai kaitan yang erat dengan dakwah islam pada masa-masa silam tersebut.

2) Penyelidikan empiris

Penelitian empiris ini ditujukan kepada segala bentuk aktifitas dakwah islam yang dilaksanakan pada saat ini dengan segala problematikanya. Data-data yang lengkap mengenai dakwah yang telah dipeorleh baik secara historis maupun secara empiris kemudian dianalisis sehingga menelorkan beberapa teori tentang dakwah yang dikembangkan lebih lanjut dalam ilmu dakwah. Segi-segi dakwah yang disoroti dalam penelitian ini adalah mengenai unsur-unsur yang mesti ada dalam setiap pelaksanakan dakwah yaitu mengenai subjek dakwah (da`i), penerima dakwah, isi dakwah, media dakwah, serta pengaruh yang ditimbulkanya terhadap sikap dan tingkah laku keagamaan individu dan masyarakat yang menerimanya (internalisasi nilai-nilai agama).penelitian secara historis dan empiris mengenai dakwah dengan unsur-unsurnya diatas sudah barang tentu memerlukan ilmu bantu antara lain penelitian,(metodologi riset) dan untuk mempermudah dan mempertajam analisisnya dapat dipakai ilmu sosial yang lain seperti sosiologi, antropologi, psikologi dan sebagainya yang disesuaikan dengan permasaalahan yang dikaji.

D. Sejarah Perkembangan Ilmu Dakwah Sejarah perkembangan ilmu dakwah mula-mula berawal dari fase tradisional ke fase ilmiah. Umtuk lebih jelasnya, berikut adalah fase-fasenya :

1) Fase Konvensional

Fase konvensional ialah fese ilmu dakwah masih berbentuk praktek-praktek dakwah yang disampaikan oleh para da’i kita, baik dari jaman Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in hingga jaman sekarang. Pada fase ini, ilmu dakwah belum terbentuk menjadi suatu ilmu. Istilah lain dari fase konvensional ialah fase tradisional.

2) Fase Sistematis

Pada fase sistematis inilah merupakan jembatan antara fase konvensional dan fase ilmiah. Pada fase ini ilmu dakwah sudah berbentuk seminar-seminar, mimbar, majelis ilmu hingga terbentuk penyusunan ilmu dakwah.

3) Fase Ilmiah

Pada fase ilmiah ini, ilmu dakwah sudah berbentuk kerangka ilmu dan sudah mempunyai syarat-syarat sebagai suatu ilmu, yaitu mempunyai metode di dalamnya, objektif dan sistematis.

About these ads

Author: fitrianimaduddin

Aku adalah petualang.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.