Blog Khusus Cak Rian

Menyampaikan kebenaran dan kedamaian

HAKIKAT CINTA KEPADA ALLAH SWT

Tinggalkan komentar


Ada suatu kisah yang sangat sering kita dengarkan mengenai cinta seorang hamba kepada Allah Swt. hingga menafikan cinta kepada selain-Nya. Yaitu, kisah seorang perempuan, Rabi’ah Al-Adawiyah. Wanita yang terkenal akan kesufiannya.

Suatu hari, sejumlah alim-ulama besar mengunjungi Rabi’ah al-Adawiyyah, di antaranya Hasan al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Tsabit al-Banani, untuk membujuk Rabi’ah agar memilih salah-satu di antara mereka sebagai suaminya. Rabi’ah mengajukan syarat penuh hikmah, di antaranya menanyakan: “Tahukah Tuan-tuan, kelak apakah saya termasuk orang yang diridhai oleh Allah Swt. atau dilaknat-Nya? Apakah saya kelak dibangkitkan setelah Hari Kiamat sebagai calon penghuni surga atau neraka…?” Semua alim-ulama tak ada yang berani menjawabnya, bahkan dengan tersedu mereka menangis dan pulang penuh penyesalan.

Ya, Rabi’ah al-Adawiyyah bukannya sedang mencari-cari alasan untuk menghindari pernikahan, melainkan lantaran beliau tak ingin kecintaannya pada Allah Swt. dan kekhusyukannya beribadah pada-Nya lekang karena gelora duniawi, seperti nafsu birahi, emosi, ambisi, dan sebagainya.

Cinta Sepotong Roti

Apa yang bisa dipetik dari kisah ringkas di atas? Berikut penulis jelaskan sedikit.

Beliau (Rabi’ah al-Adawiyyah) ingin cintanya kepada Allah Swt. tidak terbagi dengan cinta yang lain. Kalau dapat diumpamakan, cinta Rabi’ah al-Adawiyyah kepada Allah bagaikan sepotong roti utuh. Beliau ingin khusyu’ beribadah hanya kepada Allah Swt. hingga menafikan cinta-cinta yang lainnya, termasuk kepada cinta kepada lawan jenisnya. Dengan pertimbangan itu juga beliau memutuskan untuk tidak menikah.

Jika dia mencintai selain Allah Swt., maka roti tersebut terbagi menjadi beberapa bagian. Itu artinya, cintanya kepad Allah Swt. menjadi tidak utuh lagi.

Hakikat Cinta kepada Allah Swt.

Menurut jumhur ulama’, cinta Rabi’ah al-Adawiyyah kepada Allah Swt. adalah bentuk cinta yang salah. Karena bentuk cintanya hanya bersifat vertikal. Sebaliknya, masih menurut jumhur ulama’, cinta kepada Allah Swt. diumpamakan bagaikan akar pohon yang darinya tumbuh batang, daun, bunga hingga buahnya.

Maksudnya ialah, cinta kepada Allah Swt. merupakan sumber dari cinta kepada makhluknya. Jika kita sudah menyerahkan diri kepada Allah Swt dan beribadah kepada-Nya dengan khusyu’, maka cinta kita sesama makhluk akan makin meningkat. Cinta kita kepada orangtua, istri/suami dan anak (bagi yang sudah punya), teman, rekan kerja dan masyarakat pada umumnya akan makin meningkat.

Inilah yang dimaskud jumhur ulama’, bahwa cinta kepada Allah Swt. tidak hanya bersifat vertikal, tetapi juga bersifat horizontal. Jika derajat  cinta kita kepada Allah Swt. semakin tinggi maka cinta kita kepada sesama manusia dan lingkungan juga akan ikut meninggi. Karena cinta kepada Allah Swt. merupakan sumber yang dari sanalah tumbuh cinta kepada sesama manusia dan alam sekitar.

Wallahu a’lam bishshowab

Penulis: fitrianimaduddin

Aku adalah petualang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s