Blog Khusus Cak Rian

Menyampaikan kebenaran dan kedamaian

PROFIL MANAJER

Tinggalkan komentar


A. Perilaku
Dalam sebuah buku yang berjudul “Perilaku Manusia”, Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas, ini sebuah bentuk perilaku. Cerita ini dari satu segi. Jika seseoang duduk diam dengan sebuah buku ditangannya, ia dikatakan sedang berperilaku.  Ia sedang membaca. Sekalipun pengamatan dari luar sangat minimal, sebenarnya perilaku ada dibalik tirai tubuh, didalam tubuh manusia.
Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup)yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh – tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing – masing. Sehingga yang dimaksu perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas manusia darimanusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Notoatmodjo 2003 hal  114).
Seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori “S – O – R”atau Stimulus – Organisme – Respon. Skiner membedakan adanya dua proses.
1). Respondent respon atau reflexsive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan – rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebutelecting stimulation karena menimbulkan respon – respon yang relative tetap. Misalnya : makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Respondent respon ini juga mencakup perilaku emosinal misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraannya dengan mengadakan pesta, dan sebagainya.
2.) Operant respon atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Pernagsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atsannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya.
3). perilaku belajar, setiap prilaku belajar selalu ditandai oleh cicri-ciri perubahan yang pesifik. Karaterristik prilaku belajr dalm bebrapa pustaka antara lain psikologi pendidikan oleh surya (1982), disebutjuga sebagi prinsif-prinsif belajar. Di antara ciri-ciri perubahan khas yang enjadi karakteristi perilaku belaja yang terpenting adalah:
1)    Perubahan itu intensional
2)    Perubahan itu positif dan aktif
3)    Perubahn itu efektif dan fungsional

B. Macam-macam Perilaku Manusia Dalam Kehidupan
Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores). Manusia disebut etis, ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani dengan jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri dengan penciptanya. Termasuk di dalamnya membahas nilai­-nilai atau norma-norma yang dikaitkan dengan etika, terdapat dua macam etika (Keraf: 1991: 23), sebagai berikut:
1.    Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Da-pat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertin­dak secara etis.
2.    Etika Normatif
Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan norma-norma yang da­pat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan meng­hindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat. Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas dapat diklasifikasikan menjadi tiga (3) jenis definisi, yaitu sebagai berikut: Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.
Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik buruknya perilaku manusia dalam kehi­dupan bersama. Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.
Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif, dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap perilaku manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.
C. Perilaku Manusia Menurut al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk segenap manusia. Di dalamnya Allah menyapa akal dan perasaan manusia, mengajarkan tauhid kepada manusia, menyucikan manusia dengan berbagai ibadah, menunjukkan manusia kepada hal-hal yang dapat membawa kebaikan serta kemaslahatan dalam kehidupan individual dan sosial manusia, membimbing manusia kepada agama yang luhur agar mewujudkan diri, mengembangkan kepribadian manusia, serta meningkatkan diri manusia ke taraf kesempurnaan insani. Sehingga, manusia dapat mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Al-Qur’an juga mendorong manusia untuk merenungkan perihal dirinya, keajaiban penciptaannya, serta keakuratan pembentukannya. Sebab, pengenalan manusia terhadap dirinya dapat mengantarkannya pada ma’rifatullah, sebagaimana tersirat dalam Surah at-Taariq [86] ayat 5-7.  “Maka, hendaklah manusia merenungkan, dari apa ia diciptakan. Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.” (Q.S. at-Taariq [86]: 5-7) Berkaitan dengan hal ini, terdapat sebuah atsar yang menyebutkan bahwa “Barang siapa mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhan-nya.”
Di samping itu, Al-Qur’an juga memuat petunjuk mengenai manusia, sifat-sifat dan keadaan psikologisnya yang berkaitan dengan pembentukan gambaran yang benar tentang kepribadian manusia, motivasi utama yang menggerakkan perilaku manusia, serta faktor-faktor yang mendasari keselarasan dan kesempurnaan kepribadian manusia dan terwujudnya kesehatan jiwa manusia.
1. Definisi Manusia
Ketika berbicara tentang manusia, Al-Qur’an menggunakan tiga istilah pokok. Pertama, menggunakan kata yang terdiri atas huruf alif, nun, dan sin, seperti kata insan, ins, naas, dan unaas. Kedua, menggunakan kata basyar. Ketiga, menggunakan kata Bani Adam dan dzurriyat Adam.
Menurut M. Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang bermakna penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Al-Qur’an menggunakan kata basyar sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna untuk menunjuk manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Dengan demikian, kata basyar dalam Al-Qur’an menunjuk pada dimensi material manusia yang suka makan, minum, tidur, dan jalan-jalan. Dari makna ini lantas lahir makna-makna lain yang lebih memperkaya definisi manusia. Dari akar kata basyar lahir makna bahwa proses penciptaan manusia terjadi secara bertahap sehingga mencapai tahap kedewasaan.
Allah swt. berfirman:
َ وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (Q.S. ar-Rum [30]: 20)
Selain itu, kata basyar juga dikaitkan dengan kedewasaan manusia yang menjadikannya mampu memikul tanggung jawab. Akibat kemampuan mengemban tanggung jawab inilah, maka pantas tugas kekhalifahan dibebankan kepada manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah berikut ini. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklSah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Q.S. al-Hijr [15]: 28-29)
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 30)
Sementara itu, kata insan terambil dari kata ins yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Musa Asy’arie menambahkan bahwa kata insan berasal dari tiga kata: anasa yang berarti melihat, meminta izin, dan mengetahui; nasiya yang berarti lupa; dan al-uns yang berarti jinak. Menurut M. Quraish Shihab, makna jinak, harmonis, dan tampak lebih tepat daripada pendapat yang mengatakan bahwa kata insan terambil dari kata nasiya (lupa) dan kata naasa-yanuusu (berguncang). Dalam Al-Qur’an, kata insaan disebut sebanyak 65 kali. Kata insaan digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Bahkan, lebih jauh Bintusy Syathi’ menegaskan bahwa makna kata insaan inilah yang membawa manusia sampai pada derajat yang membuatnya pantas menjadi khalifah di muka bumi, menerima beban takliif dan amanat kekuasaan.
Dua kata ini, yakni basyar dan insaan, sudah cukup menggambarkan hakikat manusia dalam Al-Qur’an. Dari dua kata ini, kami menyimpulkan bahwa definisi manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, yang diciptakan secara bertahap, yang terdiri atas dimensi jiwa dan raga, jasmani dan rohani, sehingga memungkinkannya untuk menjadi wakil Allah di muka bumi (khaliifah Allah fii al-ardl)
E. Mengelola Prilaku Dalam Organisasi
Perilaku organisai bagian dari ilmu manajemen yang merupakan seni manajemen (the art of management). Ada dua hal yang dipertimbangkan dalam filosofi perilaku organisasi yaitu premis kenyataan (pandangan deskriptif tentang perilaku dunia yang diperoleh dari penelitian ilmu perilaku dan pengalaman pribadi), dan premis nilai (mewakili pandangan tentang sesuatu yang lebih disenangi dari sasaran tertentu). Hasil dari sistem perilaku organisasi yang efektif adalah peningkatan motivasi, yang jika digabung dengan kemampuan dan keterampilan karyawan akan meningkatkan produktivitas karyawan.
Ada empat model dalam perilaku organisasi, yaitu:
1. Otokratik
2. Kastodial
3. Suportif dan,
4. kolegial.
Pengembangan model dalam Perilaku Organisasi Model-model dalam perilaku organisai masih dapat dikembangkan sesuai dengan tuntutan modernisasi manajemen dimasa depan. Model dimaksudkan sebagai abstraksi dari realitas, yaitu penyederhanaan representasi dari beberapa fenomena di dunia nyata. Pengembangan model melibatkan tiga variable pentinga dalam perilaku organisasi, yaitu:
• Variabel tergantung (Dependent Variable) : sebuah respons yang dipengaruhi variabel bebas. Hal yang penting adalah : produktivitas, absen kerja, pindah kerja, pemutusan kerja, dan kepuasan kerja, dan kadang stress di tempat kerja.
• Variabel Bebas ( Independent Variable),sebuah variabel yang dianggap sebagai penyebab timbulnya perubahan pada variable tergantung, terdiri dari tiga tingkatan yaitu tingkat individual, tingkat kelompok, dan tingkat organisasi. Perilaku organisasi paling mudah dipelajari sebagai model bangunan yang bertingkat, yang fondasinya adalah pengertian kita tentang perilaku individual, bahwa karakteristik pribadi mulai dari lahir mempunyai dampak pada perilaku karyawan, dan manajemen hanya sedikit dapat mengubahnya.
• Variabel Antara (Moderating Variable): sebuah variabel yang mengurangi atau mempengaruhi efek dari variabel bebas terhadap variabel tergantung
F. Memahami Prilaku Orang Lain
Seorang manajer yang terkait dengan bagaimana kita membentuk kesan atas kehadiran orang lain secara dangkal. Dalam kehidupan kita sehari hari kita tidak hanya berhungan dengan kesan skilas di saat kita berjumpa dengan orang. Kita ingin sekali memahami perilaku orang lain sevcara mendalam, kenapa orang berperilaku dengan cara atau hasil tertentu. Upaya untuk memahami penyebab ini sangat terkait dengan proses Atribusi.
Kajian tentang atribusi pada awalnya dilakukan oleh Fritz Haider (1925). Menurut Haider, setiap individu pada dasarnya adalah seorang ilmuwan semu (pseudo scientist). Yang berusaha untuk mengerti tingkah laku orang lain dengan mengumpulkan dan memadukan potongan-potongan informasi sampai mereka tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab-sebab orang lain bertingkah laku tertentu. Dengan kata lain seseorang itu selalu berusaha untuk mencari sebab kenapa seseorang berbuat dengan cara-caratertentu. Misalkan kita melihat ada seseorang melakukan pencurian. Sebagai manusia kita ingin mengetahui penyebab kenapa dia sampai berbuat demikian. Dua focus perhatian di dalam mencari penyebab suatu kejadian, yakni sesuatu didalam diri atau sesuatu di luar diri.
Apakah orang tersebut mlakukan pencurian karena sifat dirinya yang memang suka mencuri, ataukah karena factor diluar dirinya, dia mencuri karenadipaksa situasi, misalnya karena dia harus punya uang untuk membiayai pengobatan anaknya yang sakit keras. Bila kita (individu) melihat/menyimpulkan bahwa seseorang itu melakukan suatu tindakan karena sifat-sifat kepribadiannya (suka mencuri) maka kita (individu) tersebut melakukan atribusi internal (internal attribution). Tetapi jika kita (individu) melihat atau menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh seseorang dikarenakan oleh tekanan situasi tertentu (misalnya mencuri untuk beli obat) maka kita melakukan atribusi ekternal (external attribution) Proses atribusi telah menarikperhatian para pakar psikologi sosia dan telah menjadi objek penelitian yang cukup intensif dalam beberapa decade terakhir.
Ada beberapa factor yang dapat dijadikan dasar untuk menarik suatu kesimpulan tentang apakah suatu perbuatan disebabkan oleh sifat kepribadian ataukah disebabkan oleh tekanan situasi.. bila factor-faktor berikut ini hadir ( ada) disaat seseorang melakukan perbuatan atau tindakan, maka dapat dipastikan perbuatan/tindakan tersebut disebabkan karena factor sifat-sifat kepribadian (disposisi) orang tersebut. Apa sajakah ketiga factor tersebut ?
1.    Non Common Effect (tindakan yang tidak umum/ora sak umume uwong)
Apa yang dimaksud dengan non-common effect (hal-hal yang memberi dampak yang kurang umum), yaitu situasi dimana penyebab dari tindakan yang dilakukan oleh seseorang adalah sesuatu yang tidak disukai oleh kebanyakan orang pada umumnya. Sebagai contoh misalnya , jika anda seorang pria memutuskan untuk menikahi seorang gadis yang cantik berusia masih muda dan berbudi pekerti luhur, maka dlam hal ini tidak ada hal-hal umum yang anda langgar. Artinya anda melakukan suatu hal yang lazim dan disukai umum. Sangat sulit bagi kita untuk mengatakan pilihan anda menikahi gadis tersebut karena sifat keribadian pria tersebut. Pria pada umumnya akan mau dan dengan senang hati menikahi gadis yang memiliki cirri-ciri demikian. Tetapi kalau seandainya seorang pria menikahi wanita pintet, kaya, tua dan buruk rupanya (tidak cantik), orang akan segera saja menyimpulkan bahwa pria itu memiliki sifat-sifat kepribadian yang materialistic (menyukai kekayaan si wanita). Kenapa demikian ? Karena biasanya pria
2.    freely chosen act ( tindakan atas pilihan sendiri)
Dalam kehidupan keseharian kita, kadang kita menyaksikan banyak orang yang berbuat atau bertindak tidak atas keputusannya sendiri, tidak sedikit orang yang bertindak atau berbuat karena desakan atau paksaan situasi. Sebagai contoh misalnya dalam kisah cinta siti nurbaya seorang wanita muda harus menikah dengan Datuk maringgih, seorang duda tua yang kaya raya. Nurbaya menikah karena dipaksa oleh orang tuanya demi melunasi hutang-hutangnya.
3.    Low social desirability (tindakan yang menyimpang kebiasaan)
Suatu ketika kita melihat seseorang berperilaku aneh, tidak wajar dan tidak sebagaimana mestinya. Dengan kata lain tindakan atau perbuatannya itu menyimpang dari kebiasaan umum. Misalnya ketika seseorang menghadiri upacara kematian (layat/takziyah-jw) semestinya orang tersebut harus menujukkan wajah sedih dan berempati atas kematian anggota keluarga si tuan rumah. Jika seseorang menujukkan ekpresi demikian akan sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa seseorang tadi kepribadiannya penuh empati dan simpati. Mengapa demikian ? karena dalam situasi layatan setiap orang dituntut untuk berbuat demikian. Tetapi kalau seseorang dalam layatan tersebut lalau menujukkan kegembiraan dengan tertawa-tawa, bahkan terbahak-bahak di saat orang lain susah maka dalam situasi ini akan mudah bagi kita untuk menarik kesimpulan bahwa kepribadian orang tersebut tidak beres. Kita akan dengan mudah menarik kesimpulan
G. Orang Lain Sebagai Patner Bukan Sebagi Bawahan
Kekuasaan atau jabatan apapun yang kita sandang adalah amanah Allah yang tak bisa kita telantarkan begitu saja. Kadang, sangking besar atau tingginya jabatan kita lupa makna dan hakekatnya. Sehingga kita terkadang bertindak sewenang-wenang, bahkan di luar kewajaran. Tak jarang kita menganggap bawahan kita sebagai ‘orang lain’, bukannya sebagai partner sejajar yang diharus dihamba Allah-kan juga. Atau bahkan kita menganggapnya lebih rendah. Sungguh celaka bila kita merasa lebih tinggi atau hebat dengan bawahan kita, kalau hanya jabatan kita lebih tinggi.
Kita harus ingat, serendah apapun jabatan bawahan kita, mereka adalah hamba-hamaba Allah. Jangan-jangan mereka lebih dari pada kita dihadapan Allah. Karena barang kali dalam bekerja mereka lebih ikhlas dibanding kita, lebih jujur dalam mengambil kebijakan. Atau bahkan mereka para bawahan kita itu lebih sederhana hidupnya. Rasulullah Saw. sendiri dalam kesehariannya, kendati memiliki kedudukan yang agung tak tertandingi -sebagai Nabi dan Rasul-Nya- tak menjadikan sahabatnya atau siapapun, bahkan musuhnya sebagai orang yang lebih rendah. Beliau tahu, bahwa kemuliaan seseorang itu pada nilai taqwanya. Bukan pada atribut duniawi; pangkat, jabatan, prestise atau apaun lainnya.
Nabi Muhammad Saw tak pernah membedakan Bilal (sahabat Nabi dari kalangan budak) dengan Abu Bakar al-Shidiq (sahabat Nabi dari kalangan pembesar suku). Tak aneh jika dalam sebuah kesempatan beliau menasehati agar kita dalam melihat sesuatu itu pada nilai taqwanya. Bukan pada bentuk luar atau atribut sosial yang menempel pada diri kita.
“Tidaklah seseorang memiliki kelebihan atas orang lain kecuali dengan din (nilai agamanya) dan ketaqwaan. Semua manusia adalah anak cucu Adam. Dan Adam itu diciptakan dari tanah. tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atasd orang non-Arab, tidak ada keutamaan bagi orang non-Arab atas orang Arab, orang berkulit putih atas orang kulit hitam, dan oarang berkulit hitam atas orang kulit putih kecuali dengan taqwa”. Demikian pesan Nabi Saw itu ditulis Imam Ahmad dalam Musnadnya.
Karena itu, sebaiknya kita lebih berhati-hati dengan pangkat, jabatan dan apa saja yang melekat pada kita. Boleh jadi tanpa kita sadari semua (pangkat, jabatan, gelar, dll) itu membuat kita terhina dihadapan Allah Sang Pemilik Segalanya. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt juga mengingatkan kita agar tidak terjebak pada simbol-simbol dunia. Sebab dunia beserta simbol-simbolnya hanyalah peramainan dan lelucon saja. Jadi tak perlu dimasukkan dalam hati. “Sesunggguhnya kehidupan dunia adalah permainan dan senda-gurau,”seru Allah dalam surat Muhammad.
Selanjutnya, terhadap atribut duniawi itu, pertanggungjawabnnya tidak saja selesai di dunia. Karena kalau di dunia bisa dimanipulasi, bisa aas (asal atasan senang). Pertanggungjawaban itu akan diminta lagi oleh Allah di akherat kelak. Tentu tebih berat lagi bagi mereka yang sering mengatasnamakan wakil rakyat dan demi kepentingan rakyat.

F. Egalitarian dalam Perilaku
1). Egalitarian atau egalitarianism yaitu suatu faham bahwa semua orang sama rata dan dengan itu maka semua orang mendapat hak dan dan peluang yang sama.
2). Doktrin atau pandangan yang menyatakan bahwa manusia itu ditakdirkan sama derajat. Pengertian Dalam bidang Pendidikan asas pendirian yang menganggap bahwa kelas-kelas sosial yang berbeda mempunyai bermacam-macam anggota, dari yang sangat pandai sampai ke yang sangat bodoh dalam proporsi yang relatif sama manusia sebagai makhluk sosial Masyarakat Madani
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.

Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya. Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karrena beberapa alasan, yaitu:
a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b. Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

G. Menimbulkan prilaku yang di inginkan dari oranglain untuk kita dalampratek belajar
1.    Berpikir rasional dan kritis
Berpekir rasiona dan kritis adalah perwujudan prilaku belajar terutama yang bertalian dengan memecahkan masalah. Pada umumnya siswa yang berpekir rasional akan mengunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan ,mengapa, bagaimana, danapa.dalam berpikir rasionalsiswa dituntutmengunakan logika,untuk menentuka sebab-akibat,menganalisis,da ampu emecahka masalah dengan mengunakan pertimbangan akal sehat, logis dan sestimatis.
2.    Belajaar kebiasaan
Belajar kebiasan adalah proses pembentukan kebisaan-kebiasan baru atau perbaikan kebiasan-kebiasan yang telah ada. Belajar kebiasan salaing mengunakan perintah, suri tauladan dan pengalaman yang khususu, juga mengunakan pengalaman hukuman dan ganjaran. Tujuan agar siswa memperolh sikap-sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepatdan positif dalm arti selaras dengan kebutuhan rungan dan waktu.
3.    Belajar Apresiasi
Belajar apresiasi ialah belajar meenpertimbangkan (judgment) artipenting atau nilai suatu objek. Tujuannya agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa yang dalam halini kemampuna menghargai yang tepat terhadap nilaiobjek yang tertentu misalnya prersiasi sastra, apresiasi music.
4.    Belajar pengetahuan
Bejalar pengetahuan (study) ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Study ini juga dapat diartikan sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan egiatan inpestigasi dan eksperiment. Tujuanya belajar pengtahuan adalah agar siswa dapat memperoeh atau menambah imformasi atau menambah pengetahuan tertentu yang biasa lebih rumit da memerlukan kiat khusus dala mempelajarinya misalnya dengan mengunakan alat-alat labolaturium dan penelitian lapangan
5.    Bealajar abstark
Belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berfikir abstrak. Tujuanya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata dalam mempelajari hal-hal yang abstark diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jeis ini misalnya belajar matematika, astronomi, filsafat, dan mteri bidang study agama seperti tauhid.

Penulis: fitrianimaduddin

Aku adalah petualang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s