Blog Khusus Cak Rian

Menyampaikan kebenaran dan kedamaian

Teungku Daud Beureueh: Pahlawan Bangsa yang Terpinggirkan

Tinggalkan komentar


Nama buku                 : Daud Beureueh, Pejuang Kemerdekaan yang Berontak

Penulis                        : Tim Liputan Khusus Daud Beureueh

Penerbit                      : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan                      : Pertama, Januari 2011

Tebal                           : 118

 

Teungku Daud Beureueh, begitu ia dipanggil karena termasuk golongan ulama’ di Aceh. Di samping menjadi ulama’ bagi rakyatnya, beliau juga adalah seorang pahlawan bangsa Indonesia yang mengusir penjajah Belanda dari Tanah Rencong.

Jalan perjuangan yang ditempuh oleh Teungku Daud Beureueh yang memimpikan berdirinya Darul Islam/ Negara Islam Indonesia (DI/NII) yang makmur dan sejahtera di bawah aturan Islam mencoba ditulis oleh grup majalah Tempo. Buku berjudul “Daud Beureueh, Pejuang Kemerdekaan yang Berontak” ialah termasuk salah satu Seri Buku Majalah Tempo, “Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan”.

Buku tersebut menceritakan sepak terjang Tengku Daud Beureueh dari awal beliau dan para pasukannya dengan gagah berani mengusir penjajah Belanda hingga wafatnya pada tahun 1987.

Buku tersebut terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama menjelaskan mengapa Teungku Daud Beureueh melakukan perlawanan dengan memproklamirkan berdirinya Darul Islam/ Negara Islam Indoesia (DI/NII) terhadap pemerintah Indonesia. Menurut beliau, pemerintah Indonesia sudah keluar jauh dari aturan Islam. Pada saat itu, Indonesia yang dipimpin Ir. Soekarno sudah kemasukan paham komunis yang anti-Tuhan dan berbagai kerusakan moral terjadi di negeri Republik ini.

Bagian kedua menceritakan proses terjadinya kesepakatan damai antara pihak pemerintah Indonesia yang diwakili oleh kolonel Muhammad Jasin dan pihak Darul Islam/ Negara Islam Indoesia yang diwakili oleh teungku Daud Beureueh sendiri. Setelah adanya kesepakatan damai tersebut, Teungku Daud Beureueh dan para pasukannya bersedia turun gunung setelah sebelumnya naik ke gunung-gunung untuk mempertahankan diri dari serangan TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang dikirim dari Jakarta.

Bagian ketiga menceritakan semangat perlawanan orang-orang Aceh dari jaman kolonialisme Belanda sampai konflik bersenjata antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka)-TNI. Yang perlu digarisbawahi ialah semangat perlawanan itu tidak didasarkan untuk memperoleh harta atau jabatan, melainkan didasarkan ingin hidup dengan aturan Islam di wilayah mereka. Dan semangat perlawanan itu akan muncul kembali jika aturan Islam di wilayah Aceh dirusak oleh orang asing, baik itu orang asing dari luar Indonesia maupun orang asing dari luar Aceh. Bagian ketiga ini juga memaparkan analisis siasat sang orientalis asal Belanda, Snouck Hurgronje. Dia  menyarankan kepada pemerintah Belanda untuk mengambil kebijakan merangkul para uleebalang dan menyingkirkan para ulama’ atau para teungku. Siasat inilah yang kita kenal selama ini dengan istilah politik “Belah Bambu” atau politik memecah belah pada masyarakat Aceh.

Bagian keempat dari buku ini adalah gagalnya misi penjajah Belanda dan saran sang orientalis Snouck Hurgronje untuk mengusasai daerah Aceh. Dampak dari kegagalan ini adalah korban jiwa yang tak terelakkan dari kedua belah pihak, kerugian ekonomi yang sangat besar untuk membiayai perang tersebut. Malahan, yang diuntungkan adalah kaum ulama’ yang ada di Aceh. Para ulama’ makin menancapkan pengaruhnya di daerah Aceh seiring memudarnya pengaruh para uleebalang.

Buku tersebut juga menyajikan kolom-kolom dari para penulis, seperti Anthony Reid dengan tulisan perlawanan dalam “Sejarah Nanggroe Aceh Darussalam”, Otto Syamsuddin Ishak dengan tulisan “Ikon Perlawanan Orang Aceh”, dan Isa Sualaiman dengan tulisan “Aceh: Islam dan Nasionalisme” serta tulisan dari para penulis lainnya.

Buku yang berjudul “Daud Beureueh, Pejuang Kemerdekaan yang Berontak” tersebut menggunakan alur cerita flashback atau alur cerita berawal dari belakang ke depan. Dari masa Teungku Daud Beureueh melakukan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia dengan DI/NII-nya pada tahun 1950-1960-an hingga gagalnya siasat sang orientalis, Snouck Hurgronje pada tahun 1930-an.

Buku tersebut menggunakan bahasa yang sederhana, ringan dan mengalir membuat pembaca merasa nyaman untuk membacanya. Buku ini juga sering membuat ringkasan untuk bab sesudahnya yang membuat pembaca penasaran dan ingin membaca cerita selanjutnya dari buku tersebut.

Buku tersebut juga sama nasibnya dengan buku-buku lainnya yang bertemakan tentang para pahalawan islam pada masa kemerdekaan yang selalu mendiskreditkan posisi dan jasa-jasa pahlawan tersebut dalam upayanya membantu kemerdekaan republik Indonesia ini.  Para penulis dan penerbit seakan “wajib” menggunakan pandangan dari sudut pandang pemerintah Indonesia. Hal itu bisa terungkap dengan penggunaan kata “pemberontak” yang dialamatkan kepada Teungku Daud Beureueh. Padahal, secara nyata-nyata Teungku Daud Beureueh adalah pahlawan Indonesia dengan mengusir penjajah Belanda dari tanah Aceh. Dan dia adalah Gubernur Militer untuk daerah Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Oleh karena dia memperjuangkan ajaran Islam yang rahmatan lilalamin (membawa rahmat bagi seluruh alam) di bumi Aceh, dia dicap sebagai pemberontak bangsa.

Akhirnya, kami menganjurkan anda untuk berhati-hati ketika anda membeli buku ini. Karena unsur-unsur kebencian kepada tokoh yang diceritakan masih banyak tertulis pada buku ini.

Penulis: fitrianimaduddin

Aku adalah petualang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s